Minggu, 11 Desember 2011

MANAJEMEN PEMELIHARAAN TERNAK DOMBA DAN KAMBING



Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50 – 150 gram per hari. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu: pembibitan ,perawatan ternak, makanan, dan Kandang.
A. Pembibitan
Pemilihan bibit atau bakalan kambing dan domba yang akan dipelihara tergantung dari selera petani peternak dan kemampuan modal yang dimiliki. Akan tetapi secara umum yang menjadi pilihan petani peternak adalah kambing maupun domba yang mudah pemasarannya (Murtidjo, 1992). Pemilihan bibit harus disesuaikan dengan tujuan dari usaha, apakah untuk pedaging, atau perah (misalnya: kambing kacang untuk produksi daging, kambing etawah untuk produksi susu, dll). Secara umum ciri bibit yang baik adalah yang berbadan sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan.
  • Ciri untuk calon induk:
    1. Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk.
    2. Jinak dan sorot matanya ramah.
    3. Kaki lurus dan tumit tinggi.
    4. Gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata.
    5. Dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda.
    6. Ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah.
  • Ciri untuk calon pejantan :
    1. Tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi.
    2. Kaki lurus dan kuat.
    3. Dari keturunan kembar.
    4. Umur antara 1,5 sampai 3 tahun.
Menurut Sumoprastowo (1980) bahwa tujuan beternak kambing dan domba adalah untuk memperoleh anak keturunan yang banyak dan cepat besar, sehingga bisa lekas dijual untuk memperoleh hasil susu kambing yang banyak dan berkualitas.
Untuk mencapai tujuan dalam beternak kambing yaitu memperoleh anak dan susu yang memadai hasilnya, harus dipilih induk betina yang baik. Seekor induk betina bertubuh besar akan menghasilkan susu yang lebih banyak dari pada yang betubuh kecil, tetapi hal itu bukan ukuran yang pasti (Sarwono, 1995)



B. Perawatan Ternak

Perawatan merupakan salah satu bagian daripada pemeliharaan ternak yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Beberapa perawatan penting yang harus dilakukan secara rutin dalam pemeliharaan ternak yaitu domba kambing antara lain:

1). Memandikan

Ternak yang tidak pernah dimandikan, maka bulunya akan kotor, gembel dan lembab terutama domba yang tidak pernah dicukur bulunya. Keadaan seperti ini merupakan tempat yang baik untuk bersarangnya kuman penyakit, parasit dan jamur yang dapat membahayakan terhadap kesehatan ternak.

Tujuan memandikan ternak yaitu untuk menjaga kesehatan ternak dari kuman penyakit, parasit dan jamur yang bersarang dalam bulu. Ternak yang dimandikan tampak lebih bersih, menarik dan lebih sehat.
Sebaiknya ternak dapat dimandikan secara rutin untuk jantan seminggu sekali sedangkan betina dapat
dimandikan sebulan sekali. Dalam memandikan ternak jantan dapat di dalam kandang atau dapat dilakukan di luar kandang atau di tempat pemandian (sumur dan kolam renang), sedangkan ternak betina dimandikan di dalam kandang sekaligus untuk sanitasi kandang.

2). Pencukuran bulu

Domba yang tidak pernah dicukur bulunya akan menjadi gembel dan akan sulit untuk dibersihkan, kondisi bulu yang seperti ini merupakan tempat yang baik untuk bersarangnya penyakit, parasit dan jamur yang dapat membahayakan kesehatan ternak.

Tujuan dilakukan pencukuran yaitu untuk menjaga kesehatan dari kuman penyakit, parasit-parasit luar (ekto parasit) seperti kutu serta penyakit kulit lainnya yang disebabkan oleh jamur. Selain untuk pencegahan penyakit, pencukuran juga dilakukan untuk memperindah domba terutama pejantan. Pada betina, seluruh rambut yang menempel di badan dipotong sedangkan pada jantan biasanya disisakan pada bagian leher (jenggot) dan punggung bagian depan untuk menambah kesan kejantanan dan keindahan ternak.Sebelum dicukur sebaiknya domba dimandikan terlebih dahulu agar dalam pelaksanaan pencukuran lebih mudah.

Pencukuran dapat dilakukan setahun 1 sampai 2 kali pada betina, sedangkan pada pejantan dilakukan setiap 3 sampai 4 bulan karena pejantan harus selalu kawin dan jika rambutnya panjang akan mengganggu aktivitas perkawinan, juga mengurangi keindahan. Pencukuran yang pertama dilakukan pada waktu domba telah berumur lebih dari 6 bulan agar domba tidak stress.

3). Pembutrikan

Pembutrikan merupakan kegiatan khusus dalam perawatan anak jantan dan jantan muda serta jantan dewasa. Pembutrikan merupakan pemotongan bulu disekitar tanduk khusus untuk domba garut jantan. Bulu disekitar tanduk dipotong sampai bersih karena bulu disekitar tanduk tersbut akan tumbuh dengan baik dan cepat sehingga dapat menghambat dari pada pertumbuhan tanduk, karena tanduk dan bulu akan berebutan makanan, sehingga dengan dilakukan pembutrikan ini tanduk akan tumbuh dengan cepat.

 Anak jantan mulai dibutrik pada umur satu bulan dan selanjutnya dibutrik setiap bulan untuk mempercepat proses pertumbuhan tanduk. Pada domba garut perawatan tanduk merupakan hal yang penting karena dapat mempengaruhi daya jual domba tersebut. Selain untuk mempercepat pertumbuhan tanduk, khususnya pada pejantan dewasa akan menyebabkan kerusakan pada tanduk yaitu tanduk akan mudah keropos dan pecah dan apabila diadukan maka tanduk akan pecah.
                                                       
4). Pemotongan kuku

Pemotongan kuku merupakan salah satu dari kegiatan perawatan kesehatan DOKA. Kuku yang panjang akan mengganggu proses pertumbuhan anak, karena anak akan berjalan dengan tidak wajar akibat terganggu oleh kuku. Cara berjalan yang tidak wajar tersebut akan terus terbawa sampai dewasa, hal ini akan menurunkan nilai jual. Pada DOKA dewasa, pemotongan kuku juga merupakan langkah preventif terhadap kemungkinan terjangkitnya penyakit kuku (pododermatitis) akibat banyak terselipnya kuman-kuman penyakit pada sela-sela kuku.

 Selain itu kuku yang panjangterutama pada jantan akan mengganggu proses perkawinan karena pejantan tidak bisa berdiri secara sempurna. Jika kuku tersebut patah maka akan mengakibatkan luka dan infeksi. Pemotongan kuku pada anak dimulai sejak anak berumur 6 bulan dan selanjutnya dilakukan seperti pada induk betina dan pejantan, yaitu 3-6 bulan sekali.
                                         
5). Pemberian telur dan madu

Pemberian telur dan madu ini khusus dilakukan pada domba pejantan pemacek, dengan tujuan untuk meningkatkan stamina, menjaga kesehatan dan memperbanyak sel telur yang dihasilkan. Pemberian telur ini biasanya diberikan setelah jantan melakukan perkawinan atau pada saat menjelang pejantan tersebut akan turun lapang (diadukan). Dosis pemberian yaitu 1 telur dicampur dengan madu sebanyajk 3 sendok teh, dan pemberiannya dengan cara dicekokkan.
                                            
6). Perbaikan dan pemeliharaan tanduk

Perbaikan tanduk ini jarang dilakukan. Perbaikan tanduk hanya akan dilakukan jika terdapat domba jantan yang tanduknya tidak simetris atau tanduknya rapat sampai menusuk ke lehernya, maka tanduk tersebut segera untuk diperbaiki. Cara perbaikan tanduk masih bersifat tradisional yaitu dengan cara tanduknya dibakar dengan mengggunakan bara api. Sebelum dilakukan pembakaran tanduk, tanduk tersebut diolesi dengan menggunakan kecap yang telah dicampur dengan minyak.

Tujuan pemberian kecap dan minyak pada saat pembakaran yaitu agar tanduk tidak terbakar dan gosong. Pembakaran tanduk ini biasanya dengan menggunakan obor, dimana api ditiup-tiupkan pada bagian tanduk yang akan diperbaiki. Prinsip dari pembakaran tersebut yaitu hanya untuk membuat  tanduk tidak keras (agar empuk) pada saat diperbaiki (ditarik), jadi dalam proses pembakarannya api diusahakan hanya menghangatkan tanduk saja, api tidak boleh terus mengenai tanduk. Setelah dibakar dan tanduk terasa sudah empuk maka tanduk ditarik atau diperbaiki dengan menggunakan tangan atau besi yang berlubang. Perbaikan tanduk dilakukan pertama kali pada saat ternak mencapai umur minimal 1 tahun (SP).



C. Pakan
Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral).
Cara pemberiannya :
  • Diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 – 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya.
  • Untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dikawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 – 1 kg/ekor/hari.

D. Kandang

Sebaiknya ternak dipelihara dalam kandang agar :
1. Memudahkan pengawasan terhadap ternak yang sakit, atau yang sedang dalam masa kebuntingan.
2. Memudahkan dalam pemberian pakan
3. Menjaga keamanan ternak.

Ada 2 macam bentuk kandang yaitu :

1.    Kandang dengan lantai tanah yang diatasnya cukup diberi jerami kering.
2.    Kandang berbentuk panggung dengan kolong di bawah nya.

Syarat-syarat kandang yang baik adalah :

-    Kandang cukup luas, kira-kira 1 m2 per ekor kambing dewasa.
-    Tempat harus kering, mendapat cukup sinar matahari pagi dan mudah dibersihkan.
-    Terlindung dari hujan, angin langsung dan terik matahari.
-    Sebaiknya di sekeliling kandang (terutama yang berlantai tanah) dibuat parit untuk menghindari becek dalam kandang.
-    Kotoran harus mudah dibuang yaitu dengan membuat lobang di bawah kandang agar kotoran dan bahan sisa lainnya langsung jatuh ke dalam lobang, yang merupakan bahan pembuat pupuk kandang.
-     Letak kandang tidak terlalu dekat dengan rumah atau bangunan lain
-     Kandang terbuat dari bahan yang cukup kuat, tetapi murah dan mudah didapat. Alas dapat dibuat dari bambu atau kayu yang disusun/dianyam agak jarang. Dinding kandang dari bambu atau kayu sedang atap dari rumbia kajang, alang-alang, dan sebagainya. Tinggi lantai diatas permukaan tanah 50-70 Cm, sedang jarak lantai ke atap 150-175 Cm. Pada bagian belakang dibuatkan pintu dan tangga untuk keluar masuk ternak dan pada sis kandang sebelah depan dibuatkan tempat makanan dan minuman.
-     Tempat makanan berupa bak dari kayu atau bambu dibuat sepanjang sisi depan bagian luar kandang dengan lebar kira-kira 50 Cm. Letaknya lebih tinggi 20-30 Cm dan lantai kandang.
-     Tempat minuman dari ember plastik atau belanga dari tanah diletakkan di samping bak makanan. Tempat garam dibuat dari bambu atau kotak kayu yang dipakukan setinggi kira-kira 50 Cm dari lantai. Terutama untuk kandang berlantai tanah harus diberi alas jerami kering yang perlu dibalik-balik jika sudah terlalu basah atau segera diganti dengan jerami yang baru.

1 komentar:

  1. Terima kasih gan,artiklnya bagus skali smoga brmanfaat bersama....Sedikit berbagi dg para sahabat pternak yth.Memang beternak sangat menguntungkan kita,karena banyak menghasilkan inkam keluargayg ckup lumayan,dari hasil daging,kulit,susu,urine,veses,dll. Cuma kalau pemeliharaannya dngan cara tradisional kita akan rugi di waktu,sebab pemliharaannya bisa 1-1,5th,baru bisa kita panen,itupun jelas kita harus merumput/angon. Dg kmajuan IT,kita tidak harus lagi tiap hari merumput/ngaret,kita bisa nyetok pakan utk beberapa bulan mendatang,sesuai dg kemauan&kemampuan,kita bisa tiap 3bulan sekali panen,dg penggemukan bobot bs mencapai 2,5kg/minggu.Kita menggunakan TMM (Technology Microba Matrix),dengan pemeliharaan yg lebih ringan,mudah,murah&menguntungkan,memanfaatkan limbah pertanian,dll. Dg TMM kita bisa membuat PMT(pengganti makanan ternak) dg bahan jerami/damen,gedebog /pohon pisang,jagung,kedelai,dll,menjadi pakan yg lebih bermutu&tahan lama. Karena dg difermentasi, gedebog 2 btang bs utk pakan 10 ekor kambing bs utk seminggu,begitu difermentasi 1jam saja,sudah siap saji,bisa disimpan utk beberapa minggu,bahkan dg fermentasi jerami /daun kering dg proses fermentasi 24 jam saja bs tahan utk pakan puluhan tahun,asal trlindung dari hujan&matahari.Untungnya lagi feses/kotorannya bs kita buat pupuk kandang/pakan ikan yg tentunya sangat menghemat biaya produksi pertanian/perikanan kita....info lbih lanjt hub 085 329 329 575 / 085 878 664 014.terima kasih.smoga brmanfaat bgi sesama....amiin

    BalasHapus